kliksejahtera

KHALWAT CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, munafik itu sifat yang lahir berbeda dengan yang di batin, Gibran bilang: bagusnya pakaianmu tidak bisa menutupi busuknya prilakumu. Rumi dengan nada yang sama menyatakan: nampak dipermukaan air itu tenang tetapi di kedalamannya bertumpuk bangkai-bangkai hewan.

Lihatlah kisah ini kawan: Di sebuah Pesantren Jawa Timur, ada seorang Ibu Nyai yang selalu menjawab pertanyaan setiap orang--termasuk santri muqim dan alumni--manakala sowan ke Kiainya: beliau baru khalwat di kamar, manakala ingin bersalaman, ulurkan tangan lewat lubang itu, beliau nanti menyalaminya. Memang Kiai ini guru sebuah Thariqah, sehingga khalwat adalah bagian dari riyadhah yang mengasyikkan. Biasanya durasi waktunya, 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, tetapi ini aneh khalwat sudah mencapai 5 tahun.

Memang Kiai ini selama berkeluarga belum dikaruniai anak, umurnya sudah separo abad, tetapi karena kepasrahan hatinya semua hal tidak menjadi masalah, termasuk belum punya anak itu. Semua tamu sedemikian percaya penuh, dengan bukti setiap mereka mengulurkan tangannnya, dari dalam lubang itu ada yang menyalaminya. Adapun Ibu Nyai ini umurnya separuh dari Kiai, setia mengatur semua kegiatan di pesantren ini. Mulai dari pembangunan pesantren, jadwal pengajian rutinan harian, peringatan hari besar Islam, haflah akhirussanah, menghadiri undangan masyarakat yang hajatan--selama suaminya khalwat itu.

Sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan pesantren, ada beberapa santri khidmah dalem (melayani kegiatan di rumah Kiainya), semua sedemikian percaya penuh tidak ada yang syu'dhan apa-apa. Termasuk salah satu santri laki-laki dewasa yang selalu menemani Ibu Nyai, kemana pun beliau pergi.

Cinta nafsu bermula dari kebiasaan (tresno jalaran soko kulino). Ibu Nyai ini, yang dimuliakan dari sudut apa saja oleh Kiai--ya suaminya itu--menuruti bisikan tercela dalam bentuk bersilengkuh dengan santri yang rutin mengantarkan kemana ia pergi. Skenario dirancang oleh Ibu Nyai bersama santri dalem itu: Kiai thariqoh itu dibunuh berdua, dengan cara dijerat lehernya dengan tali tambang plastik, seterusnya digali kuburannya dalam kamar itu juga. Sedangkan untuk mengatasi jabat tangan melewati lubang sediameter lengan orang, diatasi santri selingkuhannya itu. Semua nampak beres, tetapi selama lima tahun itu bukan waktu yang pendek.

Ada seorang santri yang shaleh, dalam tidurnya ia bermimpi Kiainya meninggal, malah dialah yang ikut memanggul kerandanya itu. Hal ini disampaikan kepada Ibu Nyai, malah memperoleh dampratan sampai menyumpah serapahi santri shaleh itu. Lagi-lagi santri bermimpi untuk yang ke dua kalinya. Kali ini bukan bicara lagi sama Ibu Nyai, tetapi seluruh santri yang puluhan itu mendobrak kamar yang disebut untuk khalwat, mereka menemukan kerangka Kiainya setelah membongkar kuburnya, di kamar khalwat itu. Kali ini Ibu Nyai dan santri dalem itu gantian yang mondok: di penjara puluhan tahun....

Kawan-kawan, sekelas Ibu Nyai syari'at tentu paham termasuk santrinya itu, tetapi pemahaman ilmu tanpa kehadiran Tuhan di hatinya, justru menjadi selubung cahaya. Gelapnya hati menjadikan seluruh komponen tubuh rusak, penampilan lahiriyah tidak menjamin prilakunya yang bersumber di hati sangat bahimiyah (kehewanan). Akalnya jelas berjalan, tetapi hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati....di Pesantren yang diberkahi itu, benar adanya Kiai itu khalwat dengan kekasihnya, abadi. Ibu Nyai dan santri itu bagai ayam mati di lumbungnya....

catatan :

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.




......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More