kliksejahtera

LANGGAR CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, dalam memori di hati, nampak jelas hingga kini, kalau aku bahasakan jadilah wujud tulisa-tulisan yang tak bertepi dan bisa aku suguhkan menjadi hidangan semesta ini. Dalam usiaku yang ke 47 ini, aku merasa sudah tua, tapi karena hatiku terbakar oleh Cinta maka suasana menjadi selalu muda. Cinta menjadi energi, yang hasrat dan geloranya bisa tumpah ruah mengalir di hati juga, wujudnya adalah kegembiraan hidup yang menyala-nyala. Cinta selalu melahirkan kesepakatan dari berbantahan, orang-orang yang mempunyai hati penuh cinta selalu akan mendapat pertolongan.

Cinta adalah kebaikan mutlak, apakah bentuknya spiritual ataukah sensual tidaklah penting, yang penting adalah bahwa cinta itu membawamu ke Cinta itu sendiri. Cinta dan imajinasi adalah pesulap yang menciptakan imaji Kekasih dalam pikiran, yang dengannya kita berbagi saat-saat intim yang rahasia. Bayangan tidak terbuat dari apapun, tetapi dari mulut muncul pertanyaan: Bukankah aku Kekasihmu? Dan dalam diri kita ada jawaban lembut : Ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya.

Langit dan bumi terlalu sempit untuk menampung Cinta, cinta hanya bisa bersemayam di bidang yang sangat luas--yang penuh cinta juga--dalam hati pecinta, kita bisa mencari Dia di sana. Di sana itu aku mulai dari sebuah langgar (mushalla) kampung dengan bimbingan kasih sayang dari Kiai, setelah dari ayunan dan gendongan Ibuku. Langgarnya masih panggung terbuat dari bahan pohon kelapa, atapnya sudah genteng, dinding papannya dari kayu randu yang empuk itu--bila untuk tidur malam ramai-ramai selalu terasa hangat walau tanpa kemul. Halamannya sangat luas, tempat bermain gasing, jithungan, bal-balan, bahkan latihan gulat sama teman-teman, serta belbagai jenis mainan anak-anak, indah sekali, indah sekali, indah sekali.

Pada serambi langgar itu, lahir pemahaman bersama yang berasal dari belbagai kebijaksanaan yang sama, bukan dari bahasa yang sama. Pada serambi langggar itu terjadi ungkapan belbagai hal dengan satu hati, bukan satu lidah, bukan. Sumber kebaikan bisa aku lihat dari langgar itu awalnya, ada seorang Kiai yang baik hati kepadaku dan kawan-kawan, yang menumbuhkan keinsyafan berbagi kehidupan.
Dalam langgar itu sealalu ada semacam perayaan harian, Kiai selalu melumuri hatiku dengan keindahan perilaku atau adab, yang membukakan hatiku. Dalam hatiku yang tergerak oleh cinta, pelayanan semacam itu bagai permainan petak umpet, yang tempat tinggalnya di hatiku, cahaya Tuhan mulai nampak terang dalam fajar hidupku.

Walau aku anak yatim, tetapi pelayanan Kiai itu dengan cintanya nan manis membasuhku hingga bersih dari kepahitan dan kesepian hidup. Umur Kiai itu sepertinya sebuah kemabukan pelayanan dan pengabdian sampai beliau tidak mengetahui keadaan hidup yang sebenarnya. Usai Subuhan, aku mengaji sorogan di atas dampar yang sungguh-sungguh licin bukan karena amplas, tetapi karena gesekan atas penggeseran kitab dari banyak teman, murid-murid itu. Siang, setelah sholat dhuha, Kiai itu pake caping, memanggul cangkul, bawa sabit--pergi ke sawah. Hal ini nampak dalam pandangan hatiku, menunjukkan kerja, menamplakkan untuk mandiri, tanpa mau menyerah, namun pasrah bagai petani yang tak pernah putus asa itu, tahan banting sejarah.

Aku sepulang sekolah dasar, berjamaah bersama beliau dengan sebelumnya pepujian bareng yang menentramkan walau tanpa pengeras suara. Sore aku menuju ke madrasah yang dengan tarjet hafalan, sambil menelusuri lorong-lorong kampung menghafalkan nadhoman (syair-syair shorof, nahwu, tajwid). Sore, ditunggui Kiai itu, bagai Ibu menunggu anak-anak bermain, halaman langgar itu yang aku sebut seperti perayaan harian yang indah, belbagai permainan dipentaskan anak-anak seluruh kampung, sorak-sorai membahana, anak laki dan perempuan, sebagian ada yang terjadwal memenuhi air bak wudlu. Malamnya pesta ayat-ayat suci sampai isya', selepas ngaji bersama ada saja saat purnama, belbagai permainan digelar, dalam temaram cahaya, kami merasa bahagia.

Semuanya nampak spontan, hampir mirip sebuah kegilaan. Buku-buku belum aku kenal, agaknya saat itu mengesampingkan hal-hal yang belakangan aku tahu: rasional. Justru dalam kedinian usia aku dikenalkan dengan apa yang disebut kesadaran, kesadaran yang sesungguhnya. Ternyata hal-hal kecil itu, aku pahami mengantarkan pada Hadirat Ilahi. Semua pesona ini, tanpa sertifikat tetapi menjadikan aku tanpa keraguan melompat, mengejar momen, dan tidak sulit, sekarang ini, sekarang ini, sekarang ini....

Kawan-kawan, ayo kita nikmati sesuatu yang lengket di hati kita, sangat manis, sangat manis, angat manis....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.

......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More