kliksejahtera

SUARA CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, malam jum'at ini ada yang aneh, keanehan yang nyata. Sejujurnya, karena saat kumpul sama istri aku nyetel lagunya Umi Kultsum, maka lahirlah anakku yang nomer lima, Muhammmad Syahiq bersuara bagus dengan getaran suaranya persis Umi Kultsum, yang biasa tarkhim di Maiyahan itu, suara adzannya bisa model mana saja tanpa diajari. Begitu mendengar langsung bisa. Suara cinta bisa menembus ruang dan waktu, sampai ke anakku.

Sampai aku membentuk group orkresta Umi Kultsum, yang kemaren mengiringi tarian Darwis disaksikan lama sekali oleh Syeh Hisyam itu. Demikian juga kecintaanku dulu membaca buku stensilan karya Cak Nun, pada akhirnya aku diizinkan oleh Allah selalu bersamanya. Group orkresta itu aku bentuk juga setelah dihadiahi buku lagu-lagunya Umi Kultsum sepulang lawatannya bersama Kiai Kanjeng ke Mesir, langsung aku berikan kepada Kiai Najib Abdullah, jadilah group itu.

Kalau pas aku sepanggung dengan Kiai Kanjeng mereka tahu kalau kesukaanku lagu Umi Kultsum, mereka suguhkan dengan orkresta gamelannya itu, aku pun menari-nari. Sepanjang hari sampai semalam ini, ditengah aku menulis catatan-catatan, terus aku setel lagu Umi Kultsum tanpa henti. Begitu ada jeda menulis, aku menari-nari sendiri--tarian berputar bagai gasing itu. Suara cinta itu menjadi kekuatan tak terhingga, aku bisa menulis seharian sampai lima judul sekaligus, belum ditambah menjawabi teman-teman facebookan.

Aku tidak merasa lelah, tidak ngantuk sampai tulisan ini aku bikin. Hebatnya, tiba-tiba ada yang chat--namanya Falih Vava--anak Indonesia yang baru sekolah di Mesir. Melihat gambar profile berlatar belakang sungai Neil. Jam di sini menunjukkan jam 3 pagi, di sana jam 10 malam. Kang Falih ini kesukaanya lagu Umi Kultsum, dan suka menyepi di pingir sungai Neil di senja hari. Maka malam ini aku ceritakan kepada Kang Falah--tentu lewat tulisan--bahwa saat aku berkomunikasi dengan dia, teriring lagu tentang Sungai neil itu. Lagu itu artinya, pada suatu senja di Sungai Neil ada sinar matahari menyinari permukaan sungai, maka cahaya matahari itu memantulkan cahaya yang indah, keindahan cahaya itu menatap pohon-pohon kurma yang sedang bergoyang-goyang diterpa angin. Pada suasana eksotik seperti itu, ada seseorang yang melihat dibalik jendela rumahnya yang tinggi bahwa Tuhan bisa saja menaburkan fajar pada senja, atau sebaliknya menaburkan senja pada fajar. Sempat aku tulis sebuah puisi: pagi itu indah namun senja tidak kalah indahnya. Lagu itu pada akhirnya diakhiri, apa yang kau sebut pesona itu begitu matahari tenggelam, semua menjadi musnah: itulah dunia….

Kawan-kawan, ternyata suara-suara cinta itu menuntun pada kenyataan-kenyataan, dengan melintasi dimensi-dimensi tak bertepi, aku yakin….
catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.


......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More