kliksejahtera

SELIDIK CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, ada seorang petani ketela pohon kehilangan beberapa batang dengan cara periodik, ia sadari sebagai sedekah. Termasuk hewan apa saja yang mengambil buah tanamannya, ia sadari sebagai sedekah. Itulah cahaya Rosul, cahaya Allah juga asalnya.

Pada terang bulan purnama petani ini keliling ke ladang, sebenarnya itu hanya cara untuk mengulur agar tidak terlalu tidur awal, hal ini tujuannya untuk menjegat para malaikat yang diturunkan ke bumi untuk membagi rahmat, siapapun yang terjaga, harapannya dikabulkan oleh Tuhan, Allah. Malam itu ada sosok yang mengelebat dicahayai temaram rembulan, ia saksikan sosok perempuan paro baya.
Ia tahan nafas, tahan batuk, tahan tidak bergerak, agar sosok perempuan yang turun ke ladangnya tidak terganggu, bahkan rokok pun dibunuhnya. Perempuan itu amat terburu, dengan segera mengencingi sebatang pohon agar mudah untuk mengangkatnya sebab air kencingnya menggemburkan tanah itu. Lalu perempuan itu terbirit pulang sementara petani itu mengikuti kemana langkah kaki terayun, dengan jarak agak jauh.

Pada akhirnya petani ini tahu, disudut desanya ada seorang janda yang ditinggal suaminya dengan anak tiga masih kanak-kanak semua, ya yang memungut sebatang pohon itu. Petani ini paham betul, rumahnya saja bahan dari bambu, atap rumbia lantai masih tanah di pinggir sawah. Lewat lubang dinding rumah janda itu, semua peristiwa di dalamnya terekam begitu menyentuh hatinya, bagai Sayyidina Umar menyelidik rakyatnya. Ia kupas ketela itu dengan cepatnya, lalu ia masak di atas perapian kayu bakar. Semua gerak tercahayai oncor minyak tanah terbuat dari bekas kaleng makanan.

Tiba-tiba anaknya terkecil menangis (nglilir), ia redam dengan kidung rumekso ing wengi, caping gunung, semua ia lakukan untuk mengelabui anaknya yang kelaparan sejak sore hari, sampai tertidur. Begitu terus ia lakukan manakala sedang tidak ada rejeki untuk menjamin anak-anaknya. Bagitu ketela sudah masak, pada jam menunjukkan angka 3, semua anak dibangunkan. Ia suguhkan makanan ketela godok itu di atas piring.

Petani itu melihat--walau hanya ketela--makannya dengan hasrat yang penuh, sorot matanya menunjukkan kegembiraan, Ibunya tersenyum getir. Kegetiran ini mengemuka karena melihat anak bisa makan malam ini walau ketela karena hasil curian dari petani itu. Setelah semua selesai, Ibu janda itu meninabobokkan anaknya kembali dengan dekapan yang hangat, dekapan cinta Ibu kepada anak-anaknya, walau di atas ranjang bambu. Mereka semua pulas.

Petani itu lalu pulang dengan titik kesadaran bahwa mencuri seorang Ibu janda ini bukan mencuri, bukan......

Kawan-kawan, usai sholat shubuh dari langgar (musholla kampung), seperti ada yang mengabarkan di hati janda itu bahwa malam tadi ada yang melihat semua yang ia lakukan, ia silaturrahmi ke petani ketela. Tentu dengan mengemukakan banyak hal tentang kalau pas tidak ada kebutuhan, ia mengambil ketela dari ladang petani itu, ujungnya ia minta dihalalkan.

Oh….--jawab petani terbata-bata, iya Ibu, aku halalkan semuanya, aku halalkan dunia akhirat. Aku berpesan kalau mengambil besok lagi jangan malam-malam, siang saja. Seperti tupai, kera, atau binatang apa saja aku ikhlaskan mengambil buah tanamanku, sebagai persembahan cintaku, dan menjadi sedekah hidupku, karena aku yakin mereka juga punya anak pinak seperti diri kita ini. Lalu istrinya keluar dengan membawa sekanthong beras, diserahkan kepada janda paro baya itu dengan senyum keikhlasan.....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.

......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More