kliksejahtera

KUCING CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, ini kisah terjadi hidupku, saat aku sedang mutholaah (membaca buku) di kamar yang sempit dengan sebanyak itu anak-anakku,datanglah seekor kucing dengan luka menganga di punggung tubuhnya, berdarah-darah. Hidupku selalu disetiai oleh kucing2, gara2 saat ada anak kucing di jalanan, sopirku aku suruh berhenti dan menyingkirkan anak kucing yang mau tertabrak itu.
Ternyata anak kucing itu buta, makanya lambat menyeberang jalan. Dalam pandangan kesatuan wujud, aku suruh sopir kembali ke pondok untuk ditolong ini anak kucing, saya suruh ngrumati istriku, lalu aku berangkat lagi ke pengajian. Sejak itulah aku memiliki anak pinak kucing yang setia menjaga malam-malam sepanjang hidupku sampai sekarang, ya anak cucu kucing yang aku temukan itu. Tapi saat aku mutholaah itu, datang kucing terluka, dan menatap mataku tajam-tajam, sepeti membahasakan pertolongan darurat.
Dalam bahasa cintaku, aku tanya itu kucing dengan kelembutan kata, darimana kamu sampai terluka sedemikian parah, apa yang terjadi, kamu nakal ya? Terus datanglah kucing-kucing jinakku mendampingi kucing terluka ini. Kucing berdarah ini memutar pandangan kepada kucing-kucingku yang bersih-bersih itu, seperti meminta bolehkan aku bersahabat denganmu semua, di luar memang bisa bebas tapi dengan cara keliaranku, aku menjadi terbelenggu, tapi kamu semua di kamar kiai yang sempit ini merasakan kedamaian hidupmu, merdeka sekali.
Tak lama kemudian datanglah kiai kampung dengan membawa penthung (pemukul dari kayu, agak panjang), dengan amarah, dan bertanya apakah ada kucing yang masuk ke ruang kamarku, dia akan membunuhnya, karena selalu memakan kuthuk2 (anak2 ayam) ayam miliknya. Maka aku berbohong, demi menyelematkan kucing yang aku pandang mau bertobat ini, oh tidak ada mbah (kiainya sudah sepuh, tua)! Lalu mbah yai berlalu.
Aku duduk kembali ke semula dan kucing2 itu masih disitu sambil bertutur, nah kan tanpa aku berkata, kesaksianku jelas, aku nggak ingin kamu malu di depan kucing-kucingku ini, kalau kau ingin selamat--- kataku, damailah disini, tidak perlu aku bertutur banyak tirulah saja kucing-kucingku ini, apa saja yang mereka lakukan. Kucing itu begitu aku persilahkan bergabung, dia merunduk lama banget, seperti menyesali diri, dan menyatakan kegembiraan atas penerimaanku dan kucing-kucingku itu.
Aku lihat hariannya, begitu ada rejeki yang kuberikan, mereka makan bersama, begitu selesai mereka semua nglemprak (berbaringan) membersihkan bulu2nya, termasuk yang terluka menjilati lukanya sendiri, sampai sembuh. Pernah, ketika pas kami sama2 gak ada apa2, kucing terluka itu sepertinya mau keluar dari kebersamaan selama ini, terus aku sapa, hayo,, mau kemana ayo lapar kenyang kita bersama, apa hubungan kataku dengan kebisuannya, kok dia nurut lagi.
Malah ketika malam-malam aku bertongkat mengelilingi teritorial pesantren sambil jalan kaki, dia mengikuti, aku jalan dia jalan, aku mandek dia mandek. Seluruh kampung aman anak2 ayamnya setelah terkuak keburukannya, tinggal kesalehannya. Malah pernah aku saksikan, dia meradang kepada burung alap2 yang mau menyambar anak-anak ayam babon, sepertinya melindungi makhluk yang sama pernah ia bunuhi itu, sepertinya ia menantang, ayoo bunuhlah aku bunuhlah aku, sekiranya aku mati demi keselamatan anak-anak ayam ini, aku tidak perlu menunggu kematianku, ayo! Tentramlah anak-anak ayam itu.
Begitu malam tiba, ada tamu mengetuk kamarku (maaf, aku nggak punya rumah), eh ternyata mbah kiai kampung, membawa ember iwak ingkung (ikan ayam kampung, dua ekor, nggak begitu besar). Sambil menyerahkan iwak ingkung itu, mbah yai berkata, ini sukuran saya atas amannya anak2 ayam sampai besar2, dan saya sembelih untuk panjenengan Yai (aku). Seketika itu juga aku bopong itu kucing yang bertobat, dan aku tunjukkan kepadanya, kucing itu begitu menyerah tak ada ketakutan sedikit pun, ini kucing yang panjenengan mau bunuh itu, punten saya dulu ngapusi (berbohong) kepada panjenengan (anda).
Malah mbah Yai mengelus-elus kucing yang aku bopong itu, naah---katanya, kalau begitu kan baguus, tolong pak Yai (aku) kucing2nya dibagei (dikasih bagian), termasuk yang beling ini juga. Malam itu seluruh keluargaku, termasuk dengan kucing2 penjaga malam-malam itu, seperti slametan bersama, satu ekor untuk anak2ku, satu ekor untuk kucing2 itu.
Ternyata kucing bertobat itu nggak mau makan, dia hanya lihat2 saja, tetapi tetap menunggui kawan kawannya makan dengan lahap. Tidak tahunya, esok harinya saat aku berada di luar kota, istriku mengabarkan, tanpa sebab apa2 kucing bertobat itu, yang aku namai mbilung, mati,, Aku nggregel banget, sambil terbata-bata kataku memerintahkan anakku untuk mengubur kucing yang tadinya mbeling terus aku namai mbilung itu, di sebelah depan pesantrenku, dekat pohon jati,,, anakku, lewat telepon bilang, bah kucing ini khusnul khotimah ya,,,
(aku diam, air mataku yang keluar),,, selamat jalan kawan,,,,



catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian. ......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More