kliksejahtera

JELAJAH CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, adikku perempuan pernah mengajukan pertanyaan--apa tidak payah tho Mas, orang kok pergi melulu, mau ketemu Masnya saja kok sulit? Pertanyaan ini aku jawab bahwa, untuk membebaskan dari kelelahan orang harus melintasi--minimal--tiga hal, pertama tubuh, ke dua akal, ke tiga nafsu. Kalau orang berfikir tubuh maka akan didera oleh persoalan sehat sakit, kalau orang berfikir akal akan terbentur suka dan tidak suka berdasar kalkulasi rasional, kalau orang berfikir nafsu maka akan terjebak menang kalah. Di atas ini jiwa bisa terbang bagai merpati--kata Jalaludin Rumi.
Adikku ini seperti menggantikan posisi Ibuku yang sudah tiada, kasih sayangnya itu. Saat dia nelpon--dimana Mas? Aku suka-suka berada, sedang di tetangga slametan, paginya aku di Bojonegoro, hari berikutnya di Menturo Jombang Padang Bulan, hari berikutnya di Bang-Bang Wetan Surabaya, malam berikutnya di Jakarta Kenduri Cinta, tahu-tahu datengi adikku itu sambil bawa oleh-oleh gethuk Magelang sepulang dari Jogja Mocopat Syafaat, malam berikutnya Gambang Syafaat Semarang, saat lain berada di Gondang legi Malang. Terus begitu, belum lagi rutinan di Cepu, Minggu pagi sudah bersimpuh di maulid Pesantren, tambah permintaan pengajian masyarakat yang berbagai kepentingan hajatnya, sampai di luar Jawa--Tarakan, Medan, Pangkalan Bun, Batam, Lampung, Riau, Jambi, Palembang.
Kuncinya adalah setiap bergerak harus dilandasi dengan cinta, maknanya dalam penggapaian Tuhan yang tak bertepi, serta tak tergambarkan, energi itu dilimpahkan kepada makhluknya, karena Tuhan itu qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Kalau sudah begini, sakit bisa sembuh, hal yang tak mungkin secara perhitungan akal bisa terjadi dan terlaksana, beban berat dalam perjalanan bagian dari membebani hawa agar ia terkendali, mendorong setiap gerakan hidup.
Sasaran yang ditembak adalah hati manusia, di sanalah rumah Tuhan di bumi, dengan makna kalau penggapaian ke Allah itu tanjakannya adalah membikin hambanya tersenyum, gembira itu. Pandangan ini menjadikan jauh jadi dekat, berat jadi ringan, sakit jadi sembuh dan seterusnya dalam ranah cinta, diri menjadi fana karena yang nampak di hati adalah Tuhan tersenyum dengan membikin hambaNya tersenyum itu. Untuk itu Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang hidupnya lebih bermanfaat bagi sesama manusia, bahkan di sebut Kanjeng Nabi sebaik-baik manusia. Sementara pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah pekerjaan yang manakala diselesaikan (ditandangi--Jawa), bisa membikin seneng (surut--Arab) saudaranya.
Penjelajahan hidup model ini sangat mengasyikkan, tanpa melelahkan. Lantas untuk keluarga? Hal ini tetap (pancet), sebab apa artinya penjelajahan dan keasyikan di luar, sementara di rumah tidak kebagian. Maka saat ketemu anak--Bah,, aku dipijitin! Akupun memijitin anak-anak panah cinta itu satu-satu, bahkan yang terkecil musti sambil nyanyi-nyanyi (uro-uro) dan dongeng kancil mencuri timun, sampai dia tertidur......
Kawan-kawan, baru setelah liyap-liyeping asepi (semuanya tertidur), kemesraan indah terjadi,karena saking rindunya sebab lama nggak ketemu itu....
Seperti makan bukan lauknya yang membikin enak, tapi laparnya itu, atau seperti tidur bukan tempatnya yang mewah, tapi kelelahan itu yang menjadikan kita bisa mlungker (tidur berbantal tangan) di mana saja.....

catatan :

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.

......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More