KENAPA CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, salah satu ciri utama orang yang belum faham adalah muncul pertanyaan-pertanyaan, walau tidak terucapkan namun gamang dalam kalbunya itu. Ketika karunia tak terhingga diterima, orang tidak menghadirkan Dia dalam sentuhan yang penuh kasih sayang dan cinta, namun ketika secercah derita diberikan yang menunjukkan bahwa Dia rindu kepada hambaNya, dimana selama ini kekasihNya itu hilang maka orang menohok kepadaNya dengan pertanyaan: kenapa? Kenapa pesawat jatuh, kenapa putus cinta, kenapa miskin, kenapa rejeki seret, kenapa kecelakan, kenapa terlambat, kenapa marah, kenapa diam, kenapa datang, kenapa pergi, kenapa susah, kenapa sakit, kenapa mati, kenapa hilang, kenapa rugi, kenapa gagal, kenapa,kenapa, kenapa, kenapa sampai kenapa gunung-gunung itu meletus--termasuk--kenapa Merapi itu meletus?


Semua kejadian ini--dalam ranah Cinta--adalah kebijakan yang mengarah kepada manifestasi kasih sayang semata dariNya itu, tidak ada yang lain, tidak ada. Dari sinilah latar belakang tangis Kanjeng Nabi saw, ketika menerima dua ayat di sepertiga malam sampai menangis sesenggukan sampai subuh hampir kesiangan itu: Sesungguhnya di dalam penciptaan Allah langit dan bumi serta pergantian siang dan malam hari, sungguh ada tanda-tanda bukti bagi orang yang cerdik cendikia. Yakni orang yang mengingat Allah dengan berdiri, dengan duduk dan berbaring dan berfikir dalam penciptaan langit dan bumi, dia berdo'a: wahai Tuhan kami, tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanMu ini. Maha Suci Engkau, jauhkan kami dari api neraka.


Dengan ayat ini beliau mengatakan kepada Bilal yang mendatangi saat itu: Wahai Bilal, siapapun yang tidak memahami ayat ini, sungguh ia akan celaka [Jawa,ciloko menchit]. Dari sinilah aku meniru [sedikit-sedikit] kepada beliau bahwa aku tidak akan berani meremehkan apa dan siapa, tidak berani mengejek apa dan siapa, tidak berani memperolok apa dan siapa, tidak berani menghakimi apa dan siapa, tidak berani menyakiti apa dan siapa, tidak berani mengomentari apa dan siapa [kecuali share aja], tidak berani mengkritik apa dan siapa, tidak berani membunuh apa dan siapa, tidak berani, tidak berani, tidak berani--sungguh!


Malah sebaiknya saja aku mengalah [mengAllah itu], aku lebih memilih didepak daripada mendepak, aku memilih diusir daripada mengusir, aku lebih memilih diisolir daripada mengisolir, aku lebih memilih ditendang daripada menendang, lebih memilih dipukul daripada memukul, aku lebih memilih dipegat daripada memegat, aku lebih memilih derita daripada kegembiraan, aku lebih memilih jadi orang terasing--walau di negrinya sendiri ini.


Aku tidak berani bertanya kenapa presidennya kok itu, kenapa DPRnya kok begitu, kenapa pejabatnya kok begitu, kenapa hakimnya kok begitu, kenapa gubernurnya kok begitu, kenapa satpol PPnya kok begitu, kenapa polisinya kok begitu, kenapa kok Camatnya begitu, kenapa kok Lurahnya begitu, kenapa kok RWnya begitu kenapa kok RTnya begitu, kenapa kok Ulama'nya begitu, kenapa rakyatnya kok begitu, kanapa, kenapa, kenapa dengan sejuta masalah ini.


Ketidakberanianku ini berdasar atas asumsiku bahwa dalam diriku ada semacam belantara yang membutuhkan pembenahan-pembenahan--walau umurku habispun--yang tak habis-habisnya, merasa belum beres itu. Namun kalau ada orang yang berani [kendel] menilai dan berkomentar serta sampai menjelek-jelekkan diriku ini, aku malah berterimakasih karena aku berfikir: ditengah ia harus membenahi kebelantaraan dirinya [kok kober-kobere] punya perhatian kepadaku, walau wujudnya adalah menghinaku dan menghabisiku.


Aku takjub kepada orang yang berani itu, aku takjub kepada orang yang ahli mengkritik itu--sungguh. Aku sebut ada belantara dalam diriku karena [mohon maaf] ada anjing disini, ada babi disini, ada kera di sini, ada kerbau di sini, ada singa dan macan di sini, ada merak di sini, ada burung gagak di sini, ada duri di sini, ada serigala di sini, ada buaya di sini, ada kucing di sini, ada, ada, ada, ada sebanyak spesies kebinatangan di sini. Di sisi lain aku memiliki kesibukan membangun taman dalam diriku dengan pohon-pohon hasanah, dengan bunga-bunga yang beraroma mewangi dengan sungai-sungai gemericik mengalir, dengan telaga-telaga bening untuk bercermin dan membersihkan diri....


Kawan-kawan, bukannya aku tidak peduli kepada semua itu, tetapi aku merasa ada proses abadi dariNya, proses yang amat sangat terasa panjaaaaang dalam hidup ini, yang umurku bagai seumur jagung ini tentu tidak mampu membereskan, sampai aku tidak berani bertanya kenapa semua ini terjadi. Pertanyaan kenapa ini, bagiku menunjukkan bahwa aku tidak memahami kemenyeluruhan hidup yang dicipta, yang dipersiapkan, yang disempurnakan, yang disucikan, yang dibenahi sampai pada titik yang ditujuNya itu.


Sering aku menyatakan kita ini adalah sebuah anak panah yang dilepaskan dari sebuah busur dan Dialah Pembidiknya Yang--tentu--Maha Titis itu [sederhana kan?]. Aku hanya ingin seperti bintang, yang masing-masing sunyi bagi yang lainnya, cuma bintang itu saling melepaskan cahaya. Bermilyar bahkan bermilyun bintang saling berbagi cahaya, walau bukan bintang aku merasa cukup ada semacam seekor kunang dalam kegelapan kebelantaraanku ini, cahaya kunang itulah yang menuntun dalam titian hidupku, ia yang berada dalam sudut hatiku, ia yang bak mutiara aku temukan, cahayanya yang berkilau itu cukup membuat diriku merasa bahwa tidak hanya hati ini segumpal daging, namun seluruh tubuhku terasa menjadi hati sampai bulu-bulu tubuhku terasa bagai lidah yang berbicara tentang Cinta, sebagai ekspresi menebar cahaya dan aku bisa berhari raya setiap detik serasa.


Dari sinilah aku tidak sempat bertanya: kenapa? Cuma kalau aku melihat duri lalu aku singkirkan, kalau melihat anak yatim aku bantu semampuku, kalau melihat yang susah aku gembirakan [walau hanya nasehat], kalau melihat yang bersin aku do'akan yarhamukallah, kalau melihat undangan aku datangi, kalau melihat sedulur yang meninggal aku layati, kalau ada yang sakit aku jenguk, kalau ada yang salah aku maafkan, kalau ada yang mendiamkan aku sapa, kalau ada yang memutus aku sambung, kalau ada yang bakhil [Jawa: medhit] aku punjung [kirimi], kalau ada yang menangis aku seka, kalau ada yang, kalau ada yang, kalau ada yang, kalau ada yang, sampai diriku hilang, sampai diriku hilang, sampai diriku hilang....


Menjelang!!!




catatan : 

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel