GEMETAR CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono

pulsagram, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


Sedulurku tercinta, bermula dari masa kecilku yang dilarang oleh pak guru Madrasah [ternyata dari dawuh Kanjeng Nabi saw] untuk tidak mengencingi lubang [leng, Jawa] karena di sana ada makhluk yang butuh tak diganggu, menjadikan hatiku sampai sekarang tidak tegaan jadinya. Sehingga pada puncak keimanan pun sebenarnya sejauh mana tangan dan lisan ini tidak mengganggu orang lain dan sejauhmana mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.

Aku tidak kuasa apa-apa, tetapi hati ini menjadi gemetaran saat mendengar pembantu rumah tangga dianiaya, melihat kuli bangunan diremeh-remehkan mandornya, anak-anak dihajar orang tuanya, dan silahkan cari penganiayaan yang lain, lalu [ini yang akan aku ceritakan] pelacur dikewer mucikarinya lalu dijambak rambutnya sambil didorong keras tubuhnya, lalu ditangkap pemesannya di sebuah hotel, tepat didepan pintu.

Aku langsung gemetaran, dan membayangkan andai dia punya suami, andai dia dilindungi keluarga, andai dia dilindungi pemerintah daerahnya, andai dia diurusi organisasi sosial agamanya, andai dia dirawat partai politiknya, andai dia dijamin negaranya andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia.

Kalau aku amati: orangnya cantik banget, tetapi sedemikian tidak berharga kehormatan dirinya. Ingin rasanya akan aku rebut dari pelanggannya dengan cara menebus kontraknya, bukan untuk keinginan menggaulinya, tetapi untuk membebaskannya itu dari penganiayaan yang entah kapan itu usainya, paling tidak saat aku melihat itu. Tetapi apa dayaku, aku tertunduk malu, dalam ranah Tauhid: ini juga kesalahanku, kesalahanku, kesalahanku!

Lalu aku teringat pesan Nabi saw sebelum meninggal: jagalah wanita, jagalah wanita, jagalah wanita, wanita adalah tiang negara, kalau mereka baik jayalah bangsa, kalau mereka buruk, hancurlah bangsa, sorga dibawah telapak kaki Ibu. Bahkan Gandhi pun menghargainya: tanpa wanita kemajuan tak akan bisa dicapai. Aku membayangkan apa yang terjadi di kamar itu, bisa menjadi ladang pembantaian nafsu, dia hanya dihargai tubuhnya tetapi tidak perasaannya, sedemikian kuat itu lembaran kertas yang namanya uang.

Banyak hal ini yang disalahkan adalah orang lain: salahnya sendiri!! Tetapi mana hidup ini yang sendiri, dalam kesatuan Wujud bukankah semua ini bersumber dari Satu Ruh, akhirnya aku beranikan menyalahkan diriku sendiri: aku salah, aku salah, aku salah!

Aku pahami dalam jeritan Tuhan pada Hadis Qudsi: Aku lapar kenapa kau tak memberiku makan, Aku sakit kenapa kau tak menjengukku, Aku haus kenapa kau tak memberiku minum, Aku telanjang kenapa kau tak memberiku pakaian, Aku, Aku, Aku, Aku.

Kalau demikian, dalam setiap perjalanan kita akan kita temui keadaan yang demikian, jeritan Tuhan ini hakekatnya adalah mewakili derita hambaNya. Citra keberagamaan kita sebenarnya diukur sejauhmana keterlibatan mengurusi derita umat ini, bukan pada indahnya pernik tasbih, bagusnya lembar sajadah dan kemegahan jubah-jubah itu, tetapi membebaskan derita hamba itulah bagian dari cara kita: mendekat atau taqarrub itu kepadaNya….

Kawan-kawan, jangankan soal-soal yang berat ini menyangkut manusia, bahkan ketika Kanjeng Nabi saw melihat seekor onta dibenani diluar batas kewajaran, beliau gemetar seluruh sendinya. Ow, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, aku hanya bisa melihat namun tak kuasa menolongnya….


catatan :

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.



......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More