kliksejahtera

SERULING CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ketika orang-orang bertanya siapa aku?
Aku tertawa keras atas ketidak mungkinan menjawabnya
Bukankah kendaraan siang dan malam dunia
hanya untuk menghabiskan kehidupanku:mencari aku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kala ujungnya aku temukan diriku
kesimpulannya bahwa aku tidak ada
Aku adalah sebuah misteri
Semua atribut-atribut inilah:selubung
yang memburamkan cerminku
memandangMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kalau orang-orang bilang "jalan" ini
adalah penyimpangan
sudah selayaknya aku sandang
Biar mereka puas
sebutlah aku ini setan sekalian
sebab aku tidak ada
tidak ada
Yang ada hanya Engkau semata
Pesta raya "rasa" ini memuncak
memabukkan hatiku
hingga tidak peduli atribut-atribut itu
sebab mana yang bisa aku bawa kepadaMu
selain hati ini
rumahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku tidak menyesal
walau dunia melupakanku
asal aku mengingatMu
sebab Engkaulah Yang Maha Raja
mengutus ke Taman ini
untuk mengasah diri
Memang tugasMu amat sangat berat
tetapi biarlah: aku rela
Karena dengan mencintaiMu
segala derita musnah
duri sekalipun bagiku terasa roti
semua yang menggores hidupku
adalah kado dariMu
setelah aku buka isinya
ternyata sekuntum bunga teratai
yang bermahkotakan seribu bunga itu
hingga semua nampak indah adanya
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Jalan sunyi ini dikira orang terasing
jauh dan menjauhi hiruk pikuk dunia
tetapi tidak bagiku
Sejarah memberi kesaksian
dipuncak orang-orang putus asa
Engkau taburkan harapan
Engkau terangi cahaya
bahkan dipuncak derita: Engkau bermahkota
ujung dari segala penempaan
melahirkan keterjagaanku
mengingatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Betapa nyata dan terangnya Engkau
dalam misteri ini
Perjalanan ini bagiku asyik
segala yang ada mengabarkan tentang Engkau
bagaimana bisa aku melupakanMu
Engkaulah yang Tercinta
Engkaulah kekuatan Cinta
dalam kalbuku
Begitu aku menatap kalbuku:
Engkau ada di sana
aku menemukanmU
bukan di tempat lain
Hanya ada satu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Engkaulah identitasku sebenarnya
Kesadaran ini menghidupkanku
dalam setiap langkah hidupku
aku mencari Aku
dalam kegairahan yang menyala
bagai kegairahan Zulaikha menggapai baju Yusuf itu
bagai Sayyidina Ali mengejar jejak hijrah Kanjeng Nabi itu
bagai Qois merindukan Layla itu
bagai Nabi Ya'kub merindukan anaknya Yusuf itu
Kenyerian prosesi ini aku bayar
demi mengenalMu
demi menjumpaiMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Keterpisahan ini bagai gelombang diriku
sementara Engkaulah samudra raya itu
pemikiran dan perbuatanku
hanyalah arus dari lautanMu
bagai anak panah lepas dari busurnya itu
sementara Engkaulah yang melepaskannya itu
Kalau aku seruling Engkaulah peniupnya
Kalau aku biola Engkaulah penggeseknya
Kalau aku gitar Engkaulah pemetiknya
Kalau aku gamelan Engkaulah penabuhnya
Kalau aku rebana Engkaulah pemukulnya
Kalau aku pedang Engkaulah pemegangnya
Kalau aku debu Engkaulah penggosoknya
Kalau aku kapal Engkaulah nakodanya
Bukan aku sumbar perbuatan ini
melinkan diriMu
diriMu
diriMu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam arus cintaku menuju samudraMu
aku hanya mengalir:pasrah menyerah
bagai rintik hujan yang jatuh itu
keterpisahan air cinta dari samudra
menyerah dalam proses kembali
melalui lahan-lahan bumi
melalui sawah tambak petani
mengalir dalam benturan sungai berkelok
disongsong gelombang
disambut karang meradang
berbantak ombak
berselimut angin mendesau
lalu Engkau mahkotai itu rintik air
di kedalam samudra cintaMu
menjadi butiran-butiran mutiara
sebagai harta tersembunyi
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Mutiara-mutiara itu ada di dadaku
Engkau bentur-benturkan diri ini
dengan gebalau peristiwa
aku tetap menyerah
aku tahu dan menyadari tujuanMu
untuk melampaui banyak keadaan
Ampunilah kedahagaanku ini
anugrahilah tenaga merenung
dalam semua aspek diriMu
jauhkan aku dari perangkap tataran
agar melangkah lebih jauh
larut dalam samudra CintaMu
dan menjadi mabuk
agar seperti diriMu: menjelma Cinta
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Sayap kegembiraan hatiku dalam penyatuan
dan sayap derita pilu perpisahan denganMu
menerbangkan jiwaku
Kemajemukan yang tidak terbatas
aku pandang: betapa besar gambar ini
semua adalah kurnia-kurniaMu
yang menjadi tongkat penuntun menujuMU
tetapi apa artinya tongkat
andai aku telah melihatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ketika aku lihat harmoni Taman
Engkau ada di situ
saat aku mereguk kopi pahit
teras olehku mengecup bibirMu
kala aku memandang istri :
wajah,alis,tahi lalat dan kemerahan bibirnya
Engkau nampak lebih terang
dibalik selubung halusMu ini
kemana aku berpaling: disitulah wajahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ajaran dari mata rantai kekasihMu
bagai wangi bunga-bunga beraroma
aku tidak sekedar cinta agama
namun tumbuh di dadaku: agama cinta
yang memandu menuju Taman Kebahagiaan
Bagiku ajara-ajaran ini
tak sekedar nampak dalam pernik tasbih
keindahan sajadah
dan kemegahan jubah-jubah
tetapi kemabukan dalam pelayanan kemanusiaan
inilah sejatinya keberagamaan
dan keperibadatan
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku ingin keikhlasan bagai pohon itu
mempersembahkan buah-buah segar
sebagai hidangan semesta raya
tanpa sekat perbedaan
bagai roti dan nasi diriku
untuk disapa dan menyapa:semua orang
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam berenang mengarungi arus cinta ini
aku peluk misteriMu
dengan meninggalkan keterpenjaraan
aku ingin berkembang dan berenang
menuju samudra CintaMU
Manisnya derita perjalanan ini
bagai pilu lengkingan seruling
yang merdu terbakar rindu
yang menggesa ingin kembali
ke rumpun bambu
Aku cemas terhadap ahitnya kegembiraan
walau di surga
tanpa gairah mencari
hati menjadi mati
Kegembiraanku tidak menunggu esok hari
sekarang ini aku bahagia
karena mendekatiMu
aku merdeka dari dimensi ruang dan waktu
setelah merasa bulu-bulu cintaku tumbuh
aku akan terbang meninggalkan sarang
yang penuh kotoran-kotoran ini
menujuMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Setelah matang dalam rahim Ibuku
aku lahir dalam dunia tujuh warna
matangkan aku dalam rahim dunia
agar aku lahir dari dunia
menuju tak terhinggan warna
Aku reguk ludah suci kekasihMu
apapun yang disandarkan kepadanya
adalah panggilan cinta
aku akan pasrah
walau mengaburkan pikiran-pikiran
karena cinta banyak sayap-sayapnya
walau terselip pedang didalamnya
aku akan pasrah
walau melukaiku
Ketika orang bilang itu fantasi
yang memperdaya
sampai orang bilang:aku gila
terserah
Aku terpesona oleh lidah suci ini
aku takjub oleh khabar suci ini
Keyakinanku bagai khabar Ibuku
kala aku dalam rahimnya itu:
Nak,di luar dunia gelapmu akan kau lihat nanti
ada alam raya yang tertata
menakjubkan penuh pesona
tunggulah sampai engkau lahir
engkau akan melihat bumi langit yang amat luas
tersedia makanan na lezat-lezat
ada pegunungan
ada samudra
ada lembah
ada kebun buah-buahan nan semerbak
ada ladang-ladang penuh hasil bumi
ada langit yang berkilauan cahaya
dengan matahari,bulan dan bintang tak terbilang
ada angin semilir
ada taman-taman berbunga harum mewangi
semua laksana jamuan pesta pernikahan
keajaiban-keajaiban dunia ini tak terlukiskan
Nak,sabarlah dalam penjara rahimku
reguklah darah lewat pembuluk cintaku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kini aku saksikan sendiri
khabar dibalik tabir gelap rahim itu nyata
nyata
nyata
nyata
Maka ketika kekasihMu mengabarkan pesona
dibalik rahim gelap dunia ini: aku percaya
Aku percaya
Aku percaya
Aku
Percaya!


catatan :

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.



......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More