kliksejahtera

RAMES CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, sebagai perbandingan suasana hati, kesusahan dan kerepotan sedikit saja orang bisa putus harapan, sementara ada orang dengan tingkat kesusahan tinggi, tetap senyum da pasrah hidupnya. Ketika aku berangkat naik kereta bisnis ke Kenduri Cinta beserta dua anakku, begitu lepas dari Stasion Cirebon, tiba di sampingku seorang perempuan tua--aku tanya--umurnya 61 tahun, membawa dagangan makanan di kereta satu rinjing (baki), sendirian.

Belakangan aku tahu jualan nasi rames. Bisa kawan banyangkan bahan yang harus dibawa dengan berbgai jenis itu, disusun rapi sebagai persiapan bekerja, sendirian, aku pandang sebagai keaysikan. Aku foto-foto, dia tersenyum, senyum keikhlasan walau nampak sudah senja usia namun gigi-giginya masih utuh--bagai senyum pepsoden saja.

Maaf posisi duduk dia bentuk tahiyyat sembahyang dilantai kereta, aku tawari duduk di kursi jatahku enggak mau--sudah biasa katanya. Begitu penataan makanan rames sudah siap, aku ajak ngobrol. Namanya mBah Warni, bekerja di kereta itu sudah 38 tahun, keuntungan harian kalau sepi lumayan--katanya sambil senyum, 50 ribu rupiyah, kalau ramai mendekati 100 ribu. Suaminya kerja jualan karung di kampung, anaknya 15 orang, masih sembilan yang hidup.

Karena saking lelahnya, dialog ini diselingi ngantuk-ngantuk, sepertinya tidak peduli apa kata dunia, termasuk aku. Aku biarkan tidur sambil duduk, kepalanya disandarkan kursi kreta, pulaas banget, pakai kerudung biru, baju coklat tua, jarit coklat juga. Lalu aku bayangkan kesibukan dibalik itu semua datanya. Sementara aku bayangkan banyak Ibu rumah tangga duduk manis di rumah, uang dijamin, perginya hanya pelampiasan-pelampiasan--bukan mencari uang--tapi menghabiskan dana itu. Belum lagi perempuan-perempuan yang tak membayangkan dan menghadirkan derita suami di tempat kerja. Begitu sampai rumah, menyongsong tidak, kasih minuman kesukaannya tidak, menyapa tidak, tidur membaringkan kelelahan menemani tidak, bahkan manakala suami minta jatah--mereka tolak mentah-mentah. Makanya--kataku dalam hati--banyak rata-rata suami mati duluan, iya kan?

Tapi aku tersadar perempuan ini tidak begitu, ia seorang jawara, jagoan yang masyhur disisiNya, tak dikenal dunia, kecuali dikenang indah keluarganya. Padahal, jangankan sembilan anak dari limabelas itu, membereskan anak satu saja Kanjeng Nabi mengatakan--pahalanya setara dengan menghidupkan seluruh manusia, dan diganjar jihad fi sabilillah.

Tahu2, Ibu ini bangun--langsung senyum kepadaku--menkmati sebungkus makanan dengan lauk mendoan. Aku lihat begitu nikmat, bagai mengecup bibirNya, minum air putih dengan menggairahkan, bagai mereguk anggur cinta. Aku ngiler.

Dan aku bayangkan banyak orang makan dengan nasi mahal, lauk mahal namun tanpa hasrat indah itu, banyak orang minum dengan pengembaraan selera tapi tidak seperti kegairahan cinta seperti Ibu ini. Banyak yang tidur di rumah dan hotel dan apartemen yang eksotik, namun dirundung kegelisahan yang tanpa ujung, jadinya Allah cabut kenikmatan itu, hilang keberkahan dalam rasa hati itu.

Di tengah ujung menikmati makan--maaf--dengan keberanianku aku meminta, bolehkan sisa terakhir dari keberkahan makanmu Ibu, keberkahan umurmu Ibu, keberkahan rezekimu Ibu, keberkahan keluargamu Ibu, nasi ini kau suapkan kepadaku....

Kawan-kawan, dengan senyum Ibu, dengan keikhlasannya, aku sorongkan bibirku bagai kegairahan bayi di suapi Ibunya, Allahu Akbar, aku didulangnya, disuapinya.....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian. ......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More