PILOT CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, setiap diri adalah pemimpin, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Jangankan sejauh menjadi Presiden, menjadi Ketua MPR, menjadi Mentri, menjadi Gubernur, menjadi Bupati, menjadi Camat, menjadi Lurah, menjadi Ketua Partai, menjadi Ketua Jamiyah, Bos perusahaan, Sopir, Pilot dan lain sebagainya.

Diri ini juga, tidak segampang yang nampak hanya seonggok daging dan tulang belulang, tetapi strukturnya juga amat njlimet yang membutuhkan kepemimpinan. Misalnya--firman Allah, Wahai anak cucu Adam, dalam dirimu ada Jasad, dalam Jasad ada Shudur, dalam Shudur ada Fuaad, dalam Fuaad ada Qolbu, dalam Qolbu ada Tsaqof, dalam Tsaqof ada Lubb, dalam Lubb ada Sirr, Wahai anak cucu Adam--dalam Sirr ada Aku.

Aku tidak akan melihat posisi sebagai apa, tetapi semuanya akan nampak jelas dan terang manakala berdasar akan Ingsun (aku) sejati itu. Manakala orang kesulitan mencapai titik itu, Allah sayang, dengan cara memberi panduan dan pembimbing sepanjang jalan kehidupan, adanya Kitab dan para Nabi Rosul, serta simboliknya alam semesta sebagai tongkat yang nuntun manakala belum bisa memandangNya.
Lihatlah fenomena seorang pilot ini misalnya, asalnya Jepara, saya tahu daerah ini keberagamaannya kuat, malah anaknya Kiai. Ketika pesawat Garuda yang ia kendalikan mesinnya mati ketika mau turun ke Jogja, ia berusaha menghidupkan mesin cadangan, mati juga. Bisa dibayangkan, pesawat dengan bobot buluhan ton meluncur tanpa bisa dikendalikan, akal sudah mati, ratusan penumpang akalnya terbakar. Saat pramugari mengumumkan kondisi sebenarnya, hati mereka menyala, Tuhan bermahkota, perbedaan keyakinan saat itu mengarah pada satu titik--Dia itu--apapun mereka menamakannya, menyerah, mati sebelum mati, semua mimpi tentang dunia musnah, hanya berharap Dia, Dia, Dia.

Sang Pilot juga demikian, ditengah pesawat yang secara teknis akal sudah mentok, sementara pesawat di awang-awang meluncur tak terarah, dengan bobot seberat itu--bisa dibayangkan--apa yang terjadi. Pilot itu akhirnya duduk sambil sedekap tangannya kayak orang sholat itu, mata ia pejamkan (ia fanakan diri), segenap sendi bergetar, mulut terkatup, tapi hatinya bicara dalam sunyi--air matanya keluar--menggesa ke Dia--Yaa Allah, aku sebelum titik momentum ini selalu menyerah kepadaMu, kini saatnya Engkau tunjukkan kuasaMu, aku tidak bisa apa-apa, seratus akal terbakar oleh cintaMu, ketika mesin ini hidup akulah yang Engkau percayai memimpin, tetapi saat mesin kedua-duanya mati, aku serahkan diriku dan seluruh penumpang ini kepadaMu, Engkaulah yang memimpin....

Kawan-kawan, lihatlah, pesawat Garuda itu turun dengan kecepatan tinggi, landing di sebuah sungai dekat rumah Mas Islamiyanto (vokal Kiai Kanjeng) dengan utuh, penumpang seluruhnya selamat, kecuali seorang pramugari yang mau menyelamatkan diri saat membuka pintu keluar, begitu loncat malah mati. Perlu diketahui beberapa meter kedepan ada jembatan kereta api melintang di sungai itu, dan pesawat berhenti sebelum membentur jembatan, dan Dia jatuhkan di Dusun yang orang-orangnya menolong dengan ikhlas.

Sebagai tanda syukur penumpang, mereka bangunkan masjid dan kantor balai desa itu sebagai monumen dahsyat ini. Ketika aku lihat Pilot ini diwancarai sebuah Stasion TV, akan diberi hadiah atas jasanya, Pilot itu dengan berurai airmatanya mengatakan--Jangan beri aku hadiah dan anugerah apa pun, aku tidak mau menerimanya, karena yang membikin pesawat itu selamat bukan aku (sambil menggeleng), bukan aku, bukan aku, bukan aku, bukan aku....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel