kliksejahtera

GEMBIRA CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, sebagaimana pernah aku katakan kepada istriku: lihatlah aku tetapi jangan tanyakan tentangku, aku meniti lorong waktu ini bagian dari keterasingan dan pembuangan untuk kembali ke rumah surgawi--sebuah pembuangan spiritual--karena berpisah dengan samudra Cinta, bagai ikan di samudra yang dientaskan ke daratan, menggelepar-lepar diriku bersamamu semua kawan dan teman.

Dunia ini bagiku pembuangan yang nyata, yang disebut Kanjeng Nabi SAW: kepasrahan (Islam) mulai sebagai asing dan akan berakhir sebagai asing pula--lalu disimpulkan--dan berbahagialah mereka yang menganggap dirinya asing.

Aku yakin kondisi ini dimiliki oleh semua orang yang merasa dirinya berada dalam pembuangan di dunia ini. Bisa saja suasana hati itu dialami setiap warga negara yang merasa dirinya dalam pembuangan dari tanah kelahiran mereka sebab pemerintahan yang tidak peduli kepada nasibnya, atau seorang istri yang diremehkan suaminya, atau seorang karyawan yang direndahkan pimpinannya, atau seorang suami yang disia-siakan istrinya, atau seorang anak yang ditelantarkan orang tuanya, atau seorang murid yang diusir gurunya, atau, atau, atau, atau.

Bagiku bukan saja seperti itu, tetapi menanjak kepada pembuangan spiritual ini sehingga meneteskan nyerinya rindu untuk mencercap kembali percikannya percikan dari tetesan samudra Cinta itu, tergerak oleh seruan Sang Ruh yang misteri ini.

Ketergerakan ini--dalam bahasaku keterseretan--menjadi tenaga tak terhingga dalam mencari Dia semata. Bagi kawan-kawan dan saudara semanusia, manakala mengejar dan memuaskan diri dengan kurnia apa saja, atau puas dengan mengejar sifat-sifat--sebagai pengganti DzatNya--aku relakan sedemikian rupa karena apa saja yang ada ini bagiku adalah isyarat Cinta, yang pada akhirnya akan kembali ke samudra Cinta itu lagi.

Maafkan aku kawan, aku ini seolah-olah telah menemukan sebuah harta karun di sebuah sudut hatiku, dan dalam harta karun ini telah tersingkap sebuah permata yang tak ternilai harganya, yang bernama Cinta. Selain ini, kalau aku kau pandang memiliki apa-apa --dan kau inginkan--ambillah dan aku tidak akan merasa kehilangan, karena aku tidak merasa memiliki apa-apa. Dan bila ada yang melihat aib-aibku, lalu ada yang ingin menyiarkannya untuk supremasi dirinya, aku relakan sedemikian rupa karena aku bukan siapa-siapa.

Ringkasnya, aku matikan saja diriku--anggaplah tidak ada sebagaimana diriku merasakannya--agar Dia hidup menari-nari di rumahNya ini, toh ujungnya Dia menghidupkan yang mati. Tangisan Kanjeng Nabi saw di perang Badar itu, cukup mewakili jeritanku: Ya Allah, seberat apa pun tanggungan ini Engkau bebankan, akan aku kuat-kuatkan ya Allah, asal Engkau tidak duko (marah) padaku.

Aku tidak berani menyatakan sejauh keintiman kepadaNya, atau merasa bisa dekat denganNya, atau merasa bisa memandangNya, atau merasa kenal denganNya, sebab aku merasa mengenal diriku sendiri membutuhkan kehabisan umurku untuk sampai. Termasuk aku tidak berani mengumumkan mimpi ketemu kekasihNya itu, atau merasa bisa gondelan bajunya beliau itu, atau merasa melampaui salafushshaleh yang yang telah memercikkan cahayaNya melewati mata rantai yang suci ini, sampai padaku, karena aku merasa malu akan silaunya cahaya di mataku yang lemah ini, dan hinanya akhlakku yang tak sembuh-sembuh ini.

Banyak peristiwa dalam goresan hidupku yang aku nikmati sedemikian manis, goresan itu aku prasangkai bagai kado penganten hidupku, ternyata ketika aku buka bungkusnya, berisi sekuntum bunga teratai yang mengelopak, yang bermahkotakan seribu bunga. Jadinya, ketika ada orang menyingkirkanku--siapa pun itu--maka aku relakan sedemikian rupa agar mereka puas, mereka bisa tersenyum atas terpenuhinya keinginan itu. Toh sudah aku sadari sepenuhnya, kehadiran di dunia ini adalah sebuah pembuangan, yang melahirkan kenyerian rindu yang menggetarkan dan mengguncang hati ini....

Kawan-kawan, aku tidak punya derita kecuali derita nyeri rindu kepadaNya, aku tidak punya perlindungan kecuali perlindungan dalam diriNya, dengan ini aku merasa bahagia, aku sangat berbahagia, karena duka dan derita yang datang dari Kekasih, melahirkan keterjagaan hati, penderitaan yang meneteskan anggur kemabukan, aku gembira dalam luka, aku gembira dalam luka, aku gembira dalam luka, aku gembira dalam luka, aku gembira dalam luka, aku gembira dalam luka....!!!!


catatan :

     K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962 dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian dan perdagangan.    Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar sarjana.1 Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2   Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990. Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan. Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo. Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa (OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam pelajaran sekolah. Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang; organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3 (tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah satu Partai Islam. Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan. Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan) putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.

......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More