MAINKAN SAJA CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono

pulsagram, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


Sedulurku tercinta, pada pengkajian cinta di pengajian As-Sajadah Kandang Juarang Doank Tangerang, tempat keluarga Dick Doank menggelar pelayanan cinta. Semua bentuk servis itu gratis, cuma harus ingat pesan indahnya: jangan buang sampah sembarangan. Malam itu bertaburan makna cinta, mulai penampilan anak-anak yang menyatu jiwanya dengan gerak dan nyanyi-nyanyi. Penampilan group marawis dari Bojonegoro (al-Majnun) yang rancak dan enak itu, musik bambunya Mas Plompong, dan penampilan musik yang alatnya dari barang-barang bekas namun menjadi sarana menyatunya jiwa-jiwa pemainnya.

Acara dilanjut dengan dialog tentang cinta dengan segala pernik-perniknya. Acara suntuk sampai jam dua pagi, dan aku baru diminta untuk mengisi. Biasa, karena kelemahanku tidak mampu membahasakan secara rinci tentang misteri Cinta, maka terus terang kepada hadirin bahwa apa-apa yang sudah dikaji semalaman ini begitu indah.

Baru mendengar kata-kata yang indah saja sedang menggembirakan,alangkah gembiranya manakala melihat jiwa-jiwa pengungkapnya, karena kata-kata adalah bayangan jiwa. Mendengar bunyi-bunyi musik semuanya menyenangkan, alangkah senangnya jiwa-jiwa penabuhnya itu. Kamudian aku perluas, melihat semesta ini indah dengan keberadaan yang orkrestatif, apalagi indahnya Pencipta. Semua persembahan ini merupakan tindakan yang berkata-kata, sementara banyak orang yang tindakannya hanya berkata-kata.

Perhelatan itu sudah merupakan kekayaan hidup yang bermanfaat, ekspresi cinta yang sudah dilaksanakan. Sarana-sarana diri ini sangat cangggih, kalau akal kerjanya merenung, lahirlah ketrampilan hidup: kayu diubah menjadi kursi meja, tanah bisa diubah menjadi keramik, logam bisa diubah menjadi mesin dan pesawat. Kalau hati kerjanya mengenang, lahirlah cinta: seorang anak harus mengenang kasih sayang orang tua maka lahirlah adab birrul walidain, kalau murid harus mengenang derita guru mentranformasi cahaya maka lahirlah takdziman watakriman, kalau seorang suami harus mengenang prahara istrinya maka lahirlah kesetiaan hidup, kalau seorang istri harus mengenang kerja kerasnya suami sehingga ketika menerima uang jangan sekedar menghitung jumlahnya (ini kerja akal), tetapi harus mengusung di hatinya betapa uang itu tetesan peluh suami, diluar rumah. Maka kalau suami pulang songsonglah bagai selamat pulang perang, sediakan minuman kesukaannya, manakala menggelepar kelelahan di ranjang, dekatilah antarkan lelap tidurnya--mungkin hanya sentuhan beberapa saat saja, beres. Kalau seorang menantu maka kenanglah kerelaan mertua yang melepaskan permata hatinya, yang segala cintanya telah dicurahkan kepada anak itu, maka ketika kita menerima anak itu sebagai suami istri, maka cinta dan kasih sayang yang telah dilaksanakan untuk kita teruskan, dalam mahligai rumah tangga, jangan disakiti dan disia-siakan. Blablablabla!

Akhirnya aku menyatakan bahwa semesta ini merupakan instrumen, soal merasakan cinta: ayo kita mainkan saja! Seruling disebut seruling kalau kita tiup, mandolin dan gitar disebut mandolin dan gitar kalau kita petik. Siapa bilang benda-benda bekas ini sampah, di tangan orang yang yang memiliki cinta, itu semua adalah alat yang melahirkan lagu. Siapa bilang derita menyengsarakan, di altar pecinta ia adalah pemanis hati yang melahirkan keterjagaan hati, malah pada puncak derita, Tuhan bermahkota….

Kawan-kawan, malam itu semua alat musik aku minta dimainkan, maka heteroginitas sarana menjadi menyatu dalam Satu Melodi, melodi cinta...

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian. ......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More