KETAWA CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono

pulsagram, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


Sedulurku tercinta, kemaren aku ketemu dengan anaknya MBah Surip di Kenduri Cinta, lalu aku tanyakan kapan setahun wafatnya diperingati. Aku ketemu mBah Surip juga di KC ini, dua kali dia tidur di Pesantrenku, kala menyapa di Gambang Syafaat Semarang. Tentu ingat Mbah Surip, ingat ketawa dan ungkapan I love you full itu, ingat rambut gimbalnya yang ternyata wangi itu, ingat kesederhanaannya itu, ingat gitar kesayangannya itu, ingat lagu Tak Gendong itu, ingat lagu Bangun Tidur Tidur Lagi itu, ingat hapenya yang unik itu, ingat keikhlasannya dalam menghibur hati manusia itu, ingat lagu Alif Ba Ta Tsa Jim itu.

Aku dua kali mengunjungi gubugnya di kampung artis, tempat itu dijadikan warung tapi sangat unik, sebab warung swalayan, ambil sendiri bayar sendiri, termasuk pengembalian uangnya ambil sendiri. Orangnya sedikit tidur, kalau bepergian ngeloyor begitu saja, makan ala kadarnya, menyiratkan kedamaian, tetep sembahyang, dan lihatlah sendiri semua apa adanya.

Aku selalu menemukan titik momentum di Kenduri Cinta Jakarta, Mocopat Syafaat Jogjakarta, Gambang Syafaat Semarang, Padang mBulan Jombang, Bang-Bang Wetan Surabaya, ketemu beliau. Yang menjadi misteri adalah ketawanya itu, kalau aku rasakan itu ketawa dari dalamnya dalam hati, kalau tidak pasti cepat lelah ketawanya, ketawa dia itu abadi. Seperti semua kegiatan hidup kalau energi dari dalamnya dalam hati, menjadi tenaga tak bertepi, misalnya kerepotan dan pelayanan Ibu Theresia itu, atau Kiai-Kiai yang momong anak-anak kehidupan sedemikian telaten, atau jamaah Maiyah yang nglemprak dari sore hingga Subuh itu.

Aku sendiri ketawa itu justru tidak ketika menonton lawak, namun ketika menyaksikan hal-hal yang digelar Tuhan ini, semua menjadikan ketawa seperti ketawanya mBah Surip itu, ketawa cinta. Bagaimana aku tidak ketawa ketika produk polah pecicilanku menghasilkan anak sembilan itu. Bagaimana aku tidak ketawa ketika melihat bibir kemerah-merahan nan sensual, ternyata dibaliknya ternyata hanyalah gudal. Bagaimana aku tidak ketawa ketika kulit yang orang bilang mulus itu, ternyata dibaliknya hanyalah darah nanah dan kotoran (maaf, tahi) itu. Bagaimana aku tidak ketawa ketika bokong dieksplor dengan gaya ngecor, gaya ngebor, gaya patah-patah itu walau dibungkus pesona sutra sekalipun, dibaliknya ternyata hanya silit itu. Bagaimana aku tidak ketawa ketika payudara sebesar Dolly Parton itu ternyata indah dilihat namun yang punya sendiri punggungnya nyeri, karena terlalu menanggung beban di depan. Bagaimana aku tidak ketawa ketika orang menyangka penderitaan itu kesengsaraan, ternyata dibaliknya adalah kegembiraan. Bagaimana aku tidak ketawa ketika orang menyangka sebuah prestasi yang membanggakan, ternyata dibaliknya menjadi tiyang gantungan dirinya. Bagaimana aku tidak ketawa ketika dibalik kemenangan adalah kekalahan dan dibalik kekalahan adalah kemenangan. Bagaimana aku tidak ketawa ketika merenung tentang nerakanya surga dan surganya neraka termasuk manisnya derita dan pahitnya kegembiraan. Bagaimana aku tidak ketawa ketika menyaksikan sendiri bagian yang semplempit kayak gitu bisa dilewati kepala manusia berulang-ulang.

Akupun ketawa kayak tawanya mBah Surip itu ketika aku menengok barangku sendiri, bagaimana aku tidak ketawa: ajaib, bisa mulur mungktret kayak gini.....

Hahahahahahhahahaha, I love you full, hahahahaha.....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian. ......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More