ANJING CINTA - karya K.H. Amin Budi Harjono


Sedulurku tercinta, semua yang ada ini tiada yang sia-sia, kecuali yang menyia-nyiakannya. Robbana maa kholaqta haadzaa baathilaa (duhai Tuhanku, tiada yang Kau cipta ini dengan sia-sia). Dalam ranah tasawuf, mana yang tidak mengabarkan tentang Dia. Anjing (asu, bhs jawa) misalnya, yang sering dijadikan bahan untuk merendah-rendahkan manusia, seperti anjing.
Padahal dalam pandangan kemenyuluruhan ciptaan, ia salah satu kreasi Tuhan yang indah, yang memiliki sifat-sifat terpuji, yang belum tentu manusia memilikinya. Diantara sifat-sifat terpuji anjing itu adalah bahwa ia kuat terjaga malam (sedikit tidur), sifat ini dimiliki manusia yang peringkatnya mutahajjidin (orang yang sungguh2 merindu Tuhan dengan sembahyang malamnya).
Lalu anjing itu juga memiliki watak kuat menahan lapar, sifat ini disandarkan pada manusia yang baik2 (sholikhin), di mana hidupnya menghindari menyakiti hati orang lain, malah selalu berbuat menyenangkan hati orang lain, tidak rakus. Kemudian anjing itu rela manakala ditempatkan dengan ala kadarnya, padahal sifat ini disandarkan bagi manusia yang hatinya selalu ridlo atas kehendak-kehendakNya. Terus anjing itu manakala diusir oleh tuannya, walau berkali-kali, ia akan tetap kembali tanpa dendam sedikitpun, sifat ini disandarkan bagi manusia yang memiliki peringkat pecinta atau asyikiin. Bila ia pergi, anjing itu ngeloyor begitu saja, dengan keyakinan, walau tanpa bawaan apa-apa, di mana-mana tetep mantep ada taburan rizki dari Tuhan, sifat ini disandarkan pada orang dengan level tawakkal (mutawakkiliin). Manakala dikasih sesuatu oleh tuannya, walau sedikit dan ala kadarnya,anjing itu menanti dengan harap dan memakananya dengan lahap, sifat ini disandarkan kepada manusia yang selalu bersyukur atas kurnia Tuhan (syaakiriin). Ketika diperintah tuannya ia laksanakan dengan sepenuhnya tanpa meperhitungkan resikonya, sifat ini disandarkan kepada manusia dengan tingkatan kehambaan kepada Tuhan (Aabidiin). Dan masih banyak lagi sifat terpuji anjing kreasi Allah ini yang bisa dipetik hikmahnya.
Ada seorang kiai, sepulang dari pengajian membawa brekat (oleh2 dari acara), namun tak ada santri satupun yang terjaga malam itu, termasuk warga kampung sekitar pesantrennya. Lalu didekatinya seekor anjing yang ada di sekitar pembuangan sampah kampung, dengan bergumam, karena tak seorangpun terjaga wahai anjing, yang ada malam ini engkau yang melek (terjaga), maka terimalah brekat ini sebagai rejekimu. Kiai itu melihat anjing makan dengan lahap dan sesekali anjing itu menatap mata kiai, seperti mengucapkan terimakasihnya atas rejeki ini.
Menjelang sholat berjamaah, kiai keluar rumah menuju masjid, ternyata di depan rumah dengan jongkok, anjing ini sepertinya menyongsong kiai. Dan ternyata mengikuti di belakang jejak-jejak kiai sampai halaman masjid, menunggui terompahnya. Selesai berjamaah, kiai memberi pelajaran kepada santri-santrinya, bahwa selama ini beliau telah melayani santri dengan begitu intens, namun kenapa malam ini tak seorang pun terjaga malam, menyongsong cahaya Tuhan.
Lihatlah di luar sana, tadi malam brekat aku berikan baru sekali itu kepada seekor anjing, yang sering kau kejar-kejar karena kenajisannya, ia menyongsong aku keluar dan mengikuti jejek-jejekku di belakang, lalu lihatlah, ia sekarang menunggui terompahku, sepertinya mengucapkan terimakasih yang tiada tara kepadaku....

catatan :  

    K.H. Amin Budi Harjono dilahirkan di Desa Baturagung
Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada tanggal 17 Mei 1962
dengan nama Budi Harjono sebagai anak kedua dari enam bersaudara.
Kedua orangtuanya – Bapak Sutikno dan Ibu Hj. Rukanah – hanya lulusan
Madrasah Ibtidaiyah di desanya. Keluarga beliau merupakan keluarga
yang sederhana yang hanya mengandalkan kehidupan dari hasil pertanian
dan perdagangan.

   Meskipun kedua orangtua Budi Harjono hanya lulusan madrasah
ibtidaiyah dengan jumlah anak yang lumayan banyak serta ekonomi yang
tergolong menengah ke bawah, masalah pendidikan anak-anak tetap
menjadi prioritas utama di lingkungan keluarga. Bagi mereka (kedua orang
tua Budi Harjono) tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik
bagi wawasan keilmuan anak-anak mereka. Hal itu dapat terlihat dari
prestasi pendidikan yang diraih Budi Harjono dan saudara-saudara
kandungnya. Dari keenam anak mereka, empat diantaranya berhasil
meraih gelar sarjana dan hanya dua orang yang tidak mendapat gelar
sarjana.1
Sejak kelas 2 Sekolah Dasar, Budi Harjono telah menjadi anak
yatim karena ayahnya tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semenjak itu
pula Budi Harjono diasuh oleh kakeknya yang bernama Amin Dimyati2

  Proses pendidikan Budi Harjono tidak berbeda dengan yang
dilakukan oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Diawali dari
mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Baturagung Gubug
pada tahun 1970 dan lulus tahun 1976 kemudian Budi Harjono
melanjutkan pendidikannya pada tahun itu juga di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah Gubug dan lulus pada tahun 1980.
Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah, Budi Harjono melanjutkan
jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2
Semarang dan lulus tahun 1983. Perjalanan pendidikan Budi Harjono
berikutnya adalah di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo yang dijalaninya sejak tahun 1983 hingga 1990.

Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.
Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan.


Selain menimba ilmu di sekolah-sekolah formal, Budi Harjono
juga memperdalam pengetahuannya yang berkaitan dengan masalah
keagamaan. Pendidikan berbasic agama tersebut diterimanya saat beliau
belajar di Madrasah Diniyah (MD) dan Pondok Pesantren Sendangguwo.
Menginjak remaja, ketika duduk di jenjang SMA, Budi Harjono
mulai aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Dipercaya
sebagai seksi bidang rohani Islam di lingkungan Organisasi Intra Siswa
(OSIS) SMAN 2 Semarang, Budi Harjono memulai kreatifitas berfikirnya
untuk kemajuan organisasi di samping tetap berkonsentrasi dalam
pelajaran sekolah.

Aktifitas keorganisasian tersebut berlanjut manakala beliau belajar
di IAIN Walisongo-Semarang. Selama hampir 7 (tujuh) tahun mengenyam
pendidikan tingkat tinggi, Budi Harjono tercatat aktif di lembaga-lembaga
organisasi mahasiswa yang antara lain di Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), Teater Wadas, dan bahkan beliau juga sempat menjabat
Sekretaris Senat pada masa kepemimpinan Athoillah Muslim. Hingga
sekarang-pun Budi Harjono masih aktif berorganisasi, baik organisasi
masyarakat – seperti aktif sebagai salah satu Ketua RW di lingkungan
Meteseh, Tembalang, Semarang, Dewan Syuriah NU Kodia Semarang;
organisasi sosial-pendidikan – beliau menjadi pendiri dan penasehat di 3
(tiga yayasan sosial-pendidikan); maupun organisasi politik – aktif di salah
satu Partai Islam.

Di samping memiliki segudang pengalaman organisasi, Budi
Harjono juga memiliki prestasi yang tidak kalah banyaknya dengan
aktifitas organisasinya. Sejak duduk di sekolah dasar Budi Harjono sudah
menunjukkan bakatnya di bidang kesenian. Hal itu dibuktikan dengan
meraih juara I (satu) lomba menyanyi tingkat sekolah dasar se-Kecamatan.
Di tingkat SMA, beliau berhasil meraih juara I Pidato tingkat SMA  Beliau hidup bersama seorang
isteri yang dinikahinya pada tahun 1989 dan telah dikaruniai 9 (sembilan)
putra. Kesehariannya disibukkan dengan pengembangan dakwah melalui
lembaga pendidikan, pengajian, serta kesenian.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel