MENGENAL SEJARAH SENI JARANAN KEDIRI

pulsagram, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Kesenian jaranan/kuda lumping asal muasalnya diangkat dari dongeng masyarakat Kediri, tepatnya pada masa Kerajaan Ngurawan. Konon Sang Raja, Prabu Amiseto memiliki anak yang sangat cantik rupawan bernama Dyah Ayu Songgolangit (songgolangit, bhs jw=memikul langit) yang sangat terkenal seantero jagat ( mungkin istilahnya Miss Universe…kayaknya gak tepat ya.. :-) , hingga banyak sekali raja-raja dari luar yang ingin mempersuntingnya.

Dyah Ayu Songolangit memiliki adik yang bernama Raden Tubagus Putut dan sedang mengabdi di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin oleh Prabu Klono Swandono, berkat kepiawainnya dalam hal keprajuritan akhirnya Raden Tubagus diberi gelar Patih Pujangga Anom.

Karena kecantikan Dewi Songgolangit terdengar sampai ke Kerajaan Bentar, Prabu Klono Swandono mengutus Prabu Pujangga Anom melamarkan Dewi Songgolangit untuk dirinya.

Sebelum berangkat Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahu oleh ayah dan kakaknya.. dan sampailah ia di Kerajaan Ngurawan....dan ternyata sudah banyak berdatangan para pelamar, diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo didampingi patihnya Prabu Singo Kumbang.

Kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar, membuat Dewi Songgolangit terkejut, meskipun Pujonggo Anom memakai topeng, ia mengetahui kalo yang memakai topeng itu adalah adiknya sendiri dan kemudian ia melaporkan ke ayahnya...mendengar hal tersebut , marahlah sang Prabu dan mengutuk Pujonggo Anom bahwa topeng yang dipakainya tidak bisa lepas dari wajahnya..Pujonggo Anom mengatakan ke ayahnya bahwa lamaran itu sebenarnya untuk Prabu Klono Swandono..Mendengar penuturan yang disampaikan ke ayahnya itu...akhirnya Dewi Songgo Langit membuat sebuah sayembara ..yang isinya bahwa yang boleh mempersuntingnya adalah yang dapat membuat tontonan yang belum ada di muka bumi dan apabila digelar akan bisa meramaikan jagat raya....

Sampailah berita itu ke Prabu Klono Swandono...kemudian ia memohon petunjuk dan didapatkanyalah sepotong bambu, lempengan besi dan sebuah cambuk yang diberi nama Pecut Samandiman..dan dari bambu itulah dibuat sebuah kuda kepang sebagai lambang sebuah titian...dan dari besi dibuat semacam tetabuhan....

Singkat cerita Prabu Klono Swandono beserta Patih Pujonggo Anom dan prajuritnya memenuhi persyaratan untuk mempersunting Sewi Songgolangit, mereka berangkat dengan iring-iringan pertunjukan itu dan menjadi tontonan masyarakat Kediri dan mulailah saat itu dinamai jaranan.

Dilain pihak Prabu Sing Barong dari lodoyo merasa kekedahuluan maka marahlah Singo Barong dan terjadilah perang, Klono Swandono lebih unggul berkat pecut Samandiman dan akhirnya Singo Barong menyerah dan menjadi pelengkap iring-ringan jaranan itu. Dengan bergabungnya Singo Baron, maka semakin lengkap dan semaraklah tarian jaranan tu.dan sejak saat itu kesenian jaranan disukai masyarakat Kediri sampai saat ini
Begitulah kira-kira ceritanya.. ;-) ......

Saya mengucapkan banyak terimakasih apabila anda berkenan membagikan (share) ini di Facebook dan twitter .

ShareThis

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More